PERJALANAN SEJARAH PERSIB (BAGIAN 2)

PERJALANAN SEJARAH PERSIB

Perjalanan Sejarah Persib akan kita lanjutkan pada artikel bagian 2 ini. Bagi yang belum membaca bagian pertama, silahkan klik di sini.

Tahun 1986-1990

Perjalanan sejarah Persib di era ini dimulai dengan ditunjuknya Ateng Wahyudi  menjadi ketua umum Persib menggantikan Solihin GP. Harapan besar untuk kembali meraih gelar juara akhirnya terwujud. Pada Kompetisi Perserikatan 1986, Persib yang ditangani pelatih Nandar Iskandar meraih juara setelah di final mengalahkan Perseman Manokwari dengan skor 1-0. Skuad Persib saat itu masih berisikan anak didik Marek Janota seperti Sobur, Boyke Adam (kiper), Robby Darwis, Adjat Sudrajat, Sukowiyono, Yana Rodiana, Adeng Hudaya, Sarjono, Iwan Sunarya, Sidik Djafar dan lain-lain.

Di Periode ini prestasi Persib masih terbilang stabil. Meski gelar itu lepas ke tangan PSIS pada Kompetisi 1987 dan Persebaya pada 1988, Persib masih berlaga di Senayan. Persib kembali meraih gelar juara pada Kompetisi 1990 setelah mengalahkan Persebaya 2-0 melalui gol bunuh diri Subangkit dan Dede Rosadi. Saat itu Persib yang ditangani pelatih Ade Dana dengan asisten Dede Rusli dan Indra Thohir berisikan pemain-pemain seperti Robby Darwis, Adeng Hudaya, Ade Mulyono Asep Sumantri, Dede Rosadi, Sutiono Lamso, Adjat Sudrajat, dan Djadjang Nurdjaman.

Tahun 1991-1994

Kompetisi 1991-1992 Persib gagal mempertahankan gelar setelah takluk 1-2 dari PSM di semifinal. Saat perebutan peringkat ketiga, Persib kembali harus takluk dengan skor 1-2 dari Persebaya. Kemudian pada tahun 1993 Wahyu Hamijaya dipilih menjadi ketua umum Persib menggantikan Ateng Wahyudi. Pada kompetisi penutup Perserikatan 1993-1994 Persib meraih gelar juara setelah di final mengalahkan PSM 2-0 melalui gol Yudi Guntara dan Sutiono Lamso. Persib pun berhak membawa pulang Piala Presiden untuk selamanya karena kompetisi berikutnya berubah nama menjadi Liga Indonesia, yang pesertanya dari Galatama dan Perserikatan.

Saat merebut gelar juara Kompetisi Perserikatan terakhir, trio pelatih yang menangani Persib adalah Indra Thohir, Djadjang Nurdjaman dan Emen “Guru” Suwarman. Materi para pemain Persib saat itu adalah Aris Rinaldi (kiper), Robby Darwis, Roy Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yusuf Bachtiar, Asep Kustiana, Sutiono Lamso, Kekey Zakaria dan Yudi Guntara.

Persib kembali mencatatkan namanya dalam sejarah kompetisi sepakbola di Indonesia dengan berhasil meraih juara Liga Indonesia pertama. Persib berhasil menaklukkan Petrokimia Putra di partai final dengan skor 1-0 melalui gol tunggal Sutiono Lamso. Sorai-sorai pun bergemuruh di Stadion Utama Senayan Jakarta. Bagi Sutiono Lamso golnya tersebut juga melengkapi jumlah golnya pada musim itu menjadi 21 gol. Sebuah rekor yang hingga saat ini belum terpecahkan oleh pemain Persib lainnya.

Tahun 1995-2009

Perjalanan sejarah Persib kembali berlanjut. Setelah meraih gelar juara Liga Indonesia pertama tersebut, prestasi Persib mulai menurun. Namun Persib tampil cukup bagus dalam ajang Piala Champion Asia. Persib berhasil melaju hingga babak perempat final. Namun di tanah air Persib harus merelakan trofi Piala Liga Indonesia jatuh ke tangan saudara se-kota Tim Mastrans Bandung Raya yang akhirnya menjadi juara Liga Indonesia II.

Ternyata perjalanan Persib dalam mengarungi Liga Indonesia tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Meski perubahan di tubuh Persib kerap terjadi, belum juga menuai hasil maksimal. Bahkan Persib sempat terancam terdegradasi dari kompetisi Liga Indonesia karena sering menghuni papan bawah. Pada Liga Indonesia 2001, Persib bisa lolos ke babak “8 Besar” di Medan tetapi akhirnya gagal ke semifinal. Pergantian pelatih pun dilakukan termasuk dengan mendatangkan dari Polandia, Marek Andrejz Sledzianowski pada Liga Indonesia 2003. Namun Marek Sledzianowski tidak seberuntung seniornya Marek Janota. Sledzianowski akhirnya diganti sebelum kompetisi berakhir karena Persib selalu bergelut di papan bawah. Agar terhindar dari degradasi, pengurus Persib mendatangkan pelatih asing asal Cile Juan Antonio Paez. Upaya ini berhasil dan Paez dipertahankan hingga Liga Indonesia 2004.

Pada Liga Indonesia 2005 Indra Thohir kembali dipanggil. Namun Persib harus puas finis di peringkat lima. Pada kompetisi berikutnya Risnandar Soendoro dipercaya menjadi pelatih. Namun dia hanya bertahan hingga dua pertandingan awal kandang setelah kalah dari PSIS dan Persiap di Stadion Siliwangi Bandung. Posisinya kemudian digantikan oleh Arcan Iurie Anatolievici. Pelatih asal Moldova itu kembali dipertahankan untuk menukangi Persib pada Liga Indonesia 2007. Saat itu Persib sudah diprediksi bakal meraih gelar juara karena pada paruh musim tampil sebagai pemuncak klasemen Wilayah Barat.

PERJALANAN SEJARAH PERSIB

Akan tetapi saat putaran kedua dimulai, Persib terpeleset dan prestasinya menurun. Di akhir musim Persib hanya menempati peringkat kelima dan gagal lolos ke babak 8 Besar. Pada Kompetisi Liga Super Indonesia I/2008-2009 untuk kali pertama Persib diracik pelatih dari luar Bandung yaitu Jaya Hartono. Pelatih asal Medan yang membawa Persik Kediri menggondol Piala LI 2003 dipanggil untuk menangani Persib. Sayangnya Persib harus puas menempati peringkat tiga dalam kompetisi yang menggunakan format satu wilayah itu. Pada Liga Super Indonesia II/2009-2010, Persib masih ditangani Jaya Hartono. Dia kemudian diganti asistennya Robby Darwis yang pada putaran kedua kompetisi hanya menempati peringkat keempat klasemen akhir.

Demikian artikel perjalanan sejarah Persib ini admin tulis secara singkat. Mudan-mudahan dengan adanya artikel ini, pembaca bisa sedikit lebih memahami sejarah Persib klub sepakbola tercinta kita ini.

Artikel ini disadur dari : Lintas Sejarah Persib, Risnandar Soendoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *